Tanggal 20 Februari 1901 seseorang bertanya: “Mengapa Anda melarang murid-murid Anda shalat di belakang orang-orang yang bukan murid Anda?”

Jawab : Hadhrat Masih Mau’ud bersabda :

“Orang-orang yang dengan tergesa-gesa dan dengan persangkaan buruk tidak menaruh kepedulian atas kesulitan-kesulitan yang menimpa jemaat ini, orang-orang itu tidak mengamalkan ketakwaan. Allah Taala berfirman di dalam Kalam Suci-Nya : انما يتقبل الله من المتقين , yakni Tuhan hanya menerima shalatnya orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, dikatakan bahwa janganlah shalat di belakang orang-orang yang shalatnya sendiri tidak sampai kepada derajat kemakbulan. Semenjak dahulu, inilah akidah/pendapat para tokoh suci agama, yakni orang yang menentang kebenaran, perlahan-lahan keimanannya menjadi terrenggut. Orang yang tidak percaya kepada nabi Sollallohu ‘alaihi wa as-salaam  adalah kafir. Bagaimanapun orang tidak percaya kepada Mahdi dan Masih, imannya pun akan tercerabut/terrenggut. Akibatnya hanyalah satu, pertama-tama ia membantah, kemudian menjadi orang asing, kemudian memusuhi, lalu bertindak melampaui batas, dan akhirnya keimanannya menjadi hilang sirna. Ini bukanlah perkara yang sepele dan kecil, melainkan merupakan persoalan keimanan, dan persoalan menyangkut sorga dan neraka. Orang yang mengingkariku bukanlah ia ingkar kepadaku, melainkan ingkar kepada Allah dan Rasulullah saw. Karena orang yang mendustakanku, sebelum mendustakan aku, ia [terlebih dahulu] telah menetapkan Allah—naudzu billahi min dzalik—sebagai pendusta. Padahal ia melihat bahwa kerusakan—baik di dalam maupun di luar—telah merajalela melampaui batas, dan [benarkah] Tuhan tidak mengatur untuk memperbaikinya meskipun Dia telah berjanji انا نحن نزلنا الذكروانا له لحافظون    . Padahal dengan terang ia mengimani perkara ini, yaitu Tuhan telah berjanji di dalam ayat istikhlaf 1 bahwa Dia akan menegakkan khilafat dalam silsilah Muhammadi ini sebagaimana Ia telah menegakkannya dalam silsilah Musawi. Namun, naudzu billahi min dzalik Ia tidak menepati janji itu, dan saat ini tidak ada khalifah dalam umat ini. Tidak hanya sampai disitu, [dengan mengingkari saya] terpaksa hal inipun harus diingkari bahwa Hadhrat Muhammad saw yang ditetapkah Quran Karim sebagai matsil Musa, naudzu billahi min dzalik inipun tidak benar. Karena untuk kesempurnaan silsilah [Muhammadi] ini diperlukan adanya keserupaan dan kemiripan, yakni pada awal abad ke-14 dalam umat ini muncul seorang Masih sebagai mana dalam silsilah Musawi telah muncul seorang Masih pada abad ke-14.

Begitu pula ayat Quran Syarif : اخرين منهم لما يلحقوا بهم  yang mengabarkan tentang kedatangan Ahmad pun terpaksa harus diingkari, begitu pula dengan banyak ayat Quran Syarif yang lain yang terpaksa harus dianggap dusta [jika mendustakanku]. Dengan tegas bahkan aku mengatakan bahwa [dengan mendustakanku] mulai dari alhamdu sampai wannaas seluruh al-Quran terpaksa harus ditinggalkan. Maka renungkanlah! Apakah mendustakan aku ini merupakan suatu hal yang sederhana? Aku mengatakan hal ini bukan dari diriku sendiri, aku bersumpah demi Allah Taala, bahwa hal yang sesungguhnya adalah : Orang-orang yang meninggalkan aku dan mendustakanku, ia telah mendustakan seluruh al-Quran, bukan hanya dengan lidahnya saja, melainkan dengan amalan juga. Dan ia telah meninggalkan Tuhan. Dalam salah satu ilham yang saya terima, yakni : انت مني وانا منك terdapat pula isyarat ke arah itu. Tidak syak lagi, dengan mendustakanku berarti mendustakan Allah Taala dan dengan berikrar mempercayaiku maka Kemahabenaran Allah Taala terbukti dan terciptalah keimanan yang kokoh terhadap wujud-Nya. Mendustakanku bukan hanya mendustakan aku semata, melainkan mendustakan Rasulullah saw. Sekarang, sebelum hal ini, apakah ada yang akan berani mendustakan dan mengingkariku? Renungkanlah sejenak dengan hati kalian, dan mintalah fatwa darinya [dari hati], siapakah yang ia dustakan?

Mengapa dikatakan mendustakan Rasulullah saw, sebabnya adalah [dengan mendustakanku] maka janji yang beliau sudah janjikan, yaitu disetiap permulaan abad akan muncul seorang mujadid2, naudzubillah ia menganggap janji itu sebagai dusta. Dan hadis امامكم منكم  3 yang beliau sabdakan, naudzubillah hadis itupun keliru. Lantas kabar suka yang beliau sampaikan tentang kedatangan seorang Mahdi dan Masih disaat berjangkitnya fitnah salib4, naudzubillah kabar suka itu pun dianggap keliru, karena fitnah itu telah ada berkecamuk sedangkan Imam yang dijanjikan kedatangannya belum jua muncul. Sekarang, jika ada orang yang menerima semua hal itu, tidakkah secara amalam ia [layak] ditetapkan sebagai telah mendustakan Rasulullah saw. Maka dari itu aku mengatakan dengan terbuka bahwa mendustakanku bukanlah perkara yang sepele. Sebelum mengatakan kafir kepadaku, mestilah ia sendiri telah menjadi kafir sebelumnya.

Menyebutku sebagai orang yang tidak beragama dan sesat itu “lambat” [adalah hal yang datang kemudiaan], akan tetapi sebelumnya haruslah ia mengakui kesesatan dan aib dirinya sendiri. Sebelum mengatakan bahwa aku meninggalkan Quran dan Hadis, sebelum itu haruslah dirinya sendiri yang meninggalkan Quran dan Hadis. Dan tetap saja ia akan meninggalkannya. Aku adalah orang yang membenarkan dan dibenarkan Quran dan hadis. Aku tidak tersesat, bahkan aku ini adalah mahdi [yang mendapat petunjuk]. Aku bukan orang kafir, melainkan orang yang menggenapi kebenaran انا اول المؤمنين. Apa-apa yang aku katakan ini, Tuhan telah mendzahirkannya padaku, bahwa ini adalah benar. Bagi orang yang yakin pada Tuhan, orang yang meyakini al-Quran, meyakini Rasulullah saw dan meyakini kebenaran, hujah ini sudah cukup, sehingga ia akan terdiam setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulutku. Namun, bagi orang-orang yang berani dan lancang, apa obat untuk menyembuhkannya Tuhan sendirilah yang akan membuatnya paham.

(Al-Hakam, 17 Maret 1906. Hal. 8. Pent.athaul ghalib)

 

Advertisements