“Demi Masa! Sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati mengenai kebenaran, dan saling menasehati mengenai kesabaran.” –QS. Al’Ashr

Tahun Baru Hijriyyah (15/11). Sang waktu terus berjalan dan berubah. Tidak ada sesuatu yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan itu terjadi dengan sendirinya karena dimakan usia, tanpa harus ada campur tangan manusia. Namun, perubahan perilaku manusia memerlukan ikhtiar yang diawali niat, termasuk memaknai pergantian tahun baru Islam 1 Muharram 1434 Hijriyyah.

Tak terasa kita telah memasuki tahun baru 1434 H, tepatnya saat ini kita sudah berada di bulan Muharram. Adapun kata muharram berasal dari kata “harrama” yang mengalami perubahan bentuk menjadi “yuharrimu-tahriiman-muharraman-muharrimun“.

Bentukan “muharraman” berarti yang diharamkan. Apa yang diharamkan? Perang atau pertumpahan darah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, menurut ketetapan Allah sejak hari DIA menciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat yang suci (Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab). Itulah agama yang teguh. Karena itu, janganlah kamu menganiaya dirimu sendiri di dalamnya…….”

Membicarakan bulan Muharram pasti tidak akan lepas dari peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Hijrah itu sekaligus menjadi tonggak awal dimulainya kalender Islam. Ini artinya, hijrah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam beserta para sahabatnya ke Madinah telah berumur 1434 tahun. Sebuah peristiwa bersejarah yang patut dikenang dan bisa menjadi proses transformasi spiritual.

Di dalamnya terkandung makna dan keteladanan untuk sebuah pengorbanan sejati yang mengapresiasikan perlawanan akan kebathilan sekaligus sikap konsisten mengedepankan kepentingan misi dari kepentingan apa pun, agar ia tetap lestari dan terjaga dari kepunahan meski karenanya harus berdarah-darah mereka harus meninggalkan negeri, harta, sanak dan handai taulan tercinta.

Secara harfiah hijrah artinya berpindah. Secara istilah, ia mengandung dua makna yaitu, hijrah makani dan hijrah maknawi . Hijrah makani artinya hijrah secara fisik berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik dari negeri kafir menuju negeri Islam. Adapun hijrah maknawi artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebathilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju ke-I S L A M-an.

Ibrah dari peristiwa hijrah adalah sebuah p e n g o r b a n a n. Setelah para sahabat keluar dari ujian berupa siksaan dan cercaan dari Kafir Quraisy di Mekah, tidak otomatis menjadikan mereka bebas dari ujian berikutnya. Yang paling gamblang adalah cobaan meninggalkan kemapanan. Lihatlah bagaimana sahabat meninggalkan keluarga tercinta, rumah, pekerjaan, tanah air, sanak dan handai taulan.

Secara lahiriah, umumnya naluri manusia akan menyatakan ujian itu sungguh berat. Meninggalkan nilai material yang barangkali selama ini mereka rintis dan perjuangkan. Berpindah ke suatu tempat asing yang penuh spekulasi. Toh, kecintaan para sahabat akan Islam mengalahkan kecintaan pada semua itu. Kesucian akidah di atas segalanya. Hal ini sekaligus menegaskan betapa perkara Islam menempati pertimbangan tertinggi dari perkara-perkara yang lain. Pelajaran lain, hijrah menegaskan adanya perseteruan antara kebatilan versus kebenaran.

Hijrah juga mengandung arti berpindah “dari” dan berpindah “menuju”. Maksudnya berpindah dari yang semula tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya menuju kepada yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Jika rumusan global tersebut betul-betul dihayati, tiap ahmadi muslim untuk selanjutnya secara konsisten diterapkan dalam sendi-sendi kehidupan. Karena, dalam dirinya terdapat potensi raksasa/kekuatan yang luar biasa, yang apabila digali dan diatur dengan sungguh-sungguh akan mengantarkan kepada kehidupan kita yang jauh lebih baik, lurus, dan cerah. Ketidaksadaran akan potensi dirinya akan berdampak kepada pengkerdilan potensi itu sendiri. Sehingga manusia (kita) sering tidak berdaya dalam menghadapi persoalan hidup.

Bentuk ketidaksadaran akan potensi diri ini bisa bersifat individu atau kolektif. Dalam tataran individu hal itu akan membuat individu yang bersangkutan mengalami kelumpuhan berpikir, kelumpuhan nurani dan kelumpuhan beraksi yang akhirnya bisa menimbulkan sifat “M A L A S”. Selanjutnya akan dapat menimbulkan pola pikir yang “seandainya, jikalau, umpama” (seandainya saya jadi orang kaya, jikalau saya seorang pejabat, dll). Sedangkan dalam skala kolektif akan menimbulkan kelumpuhan satu bangsa, satu generasi atau satu ummat, sehingga akan melahirkan generasi yang mandul, ummat yang rapuh dan bangsa yang stagnan.

Sering kita tidak menyadari bahwa kita memiliki potensi untuk mengatur menjadi “imam” umat lain, menjadi imam peradaban dan budaya. Sesungguhnya Allah membuka kesempatan bagi kita untuk menjadi ummat terbaik di mata dunia. Kita sering lupa bahwa Allah memberi kita potensi untuk menjadi umat pilihan, ummat penengah yang mampu memberikan rahmat dan kesejukan pada sesama, mampu menebarkan keadilan, melindungi hak-hak manusia dan menghargai martabat mereka. Sebagaimana Firman-Nya dalam Ali ‘Imran:111,  “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…”

Orang-orang beriman bisa melejitkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya secara maksimal, dalam bingkai keimanan dan ketaqwaan, j i k a mampu menyuruh manusia untuk berbuat baik, menebarkan kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang mungkar yang merugikan manusia lainnya. Kita akan dianggap kelompok orang yang beriman jika dalam setiap gerak kita, sikap kita, selalu bertaburan kebaikan dan sepi dari kemungkaran. Kesadaran untuk menjadi mukmin secara hakiki akan mengantarkan kita kepada pola pikir dan aksi yang positif, mendorong kita untuk melakukan kerja besar dan menghindarkan kita dari hal yang sia-sia (L A G H A W). Kesadaran bahwa kita mendapat asuransi bersyarat dari Allah sebagai umat terbaik, umat pilihan, dan saksi bagi segenap manusia akan memacu, mendorong serta menggerakkan kita untuk melakukan agenda strategis agar mengangkat derajat umat Islam yang sedang dirugikan oleh cara berpikir dan berperilaku yang keliru.

Oleh karena itu, kita harus mulai dari diri sendiri (ibda’ binafsik). Selanjutnya, kesadaran individu harus bermetamorfosis menjadi kasadaran kolektif, menjadi kesadaran umat, sehingga kita mampu menempatkan diri pada tempat yang seharusnya. Kita harus menjadi umat yang mulia dan bukan menjadi hina. Kita harus menjadi umat yang memimpin dan bukan yang dipimpin. Kita harus menjadi Khayrul Ummah (ummat terbaik) dalam bingkai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala. Ahmadi Muslim harus memahami makna hijrah secara luas. Hijrah tak hanya pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tapi makna hijrah secara luas: P E R U B A H A N, termasuk perubahan pola pikir ke arah yang lebih baik dalam menempuh perjalanan hidup di dunia nan fana ini. Wallahu ’alam. Bishshawwab. (LV)

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Dzar, manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara:

  1. Masa mudamu sebelum datang masa tua
  2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakit
  3. Masa kayamu sebelum datang masa miskin
  4. Masa senggangmu sebelum datang masa sibuk
  5. Masa hidupmu sebelum datang masa mati(HR. Hakim dan Baihaqi).
Advertisements