Minggu 15 Agustus 1954 mungkin merupakan hari yang bisa dikatakan penting untuk penduduk yang berada di kaki Gunung Ciremai ini. Pasalnya warga Manislor yang merupakan anggota Jemaat Ahmadiyah akan membangun mesid baru yang berukuran cukup besar untuk menampung Jemaatnya yang berjumlah 80% dari ­+ 3000 orang warga Manislor. Sebelumnya memang sudah ada “Mesjid Darurat” namun sudah tidak memadai lagi.

Adalah seorang Ahmadi mukhlis yang bernama Sutawalam yang mewakafkan tanahnya, untuk dibangun Mesjid. Peletakan batu pertama yang dihadiri oleh Pengurus Besar bersama Mian Rafi’ Ahmad H.A.B.A., cucu Masih Mau’ud as.

Namun tidak mulus begitu saja pembuatan mesjid ini. Baru mesjid itu akan “naik bata” (setengah selesai) Kuwu Bening (pemimpin pekerjaan pembangunan mesjid) itu dibawa oleh Polisi atas desakan ulama-ulama yang harus meringkuk di kantor Polisi selama 5 hari. Selesai penahanannya beliau ia memimpin kembali pekerjaan pembangunan mesjid itu.

Dan pada akhir September, selesai segala sesuatunya. Mesjid itu dibuat dari tembok batu berukuran 16 x 14 m.­­­ orang Ahmadi pun merasa tentram menjalankan ibadahnya di mesjidnya yang baru. Akan lebih indah jika masjid itu terisi penuh saat melaksanakan shalat. Marilah kita bersama-sama untuk shalat berjamaah di mesjid.

 

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa salaam telah menyuruh kami membangun mesjid di tempat tinggal kami dan supaya kami menjaga kebersihannya [ Ahmad dan Tirmidzi ]

 
image
Annur (2014) di barat desa manislor. Dekat simpang empat Jalan Wisaprana.

image
Sedangkan banyak yang mengatakan bahwa Mesjid alhuda adalah yang dikelola oleh Ahmadiyah. Salah. Alhuda adalah mesjid yang dikelola desa, terletak tepat di alun-alun desa Manislor, berhadapan langsung dengan jalan raya cirebon-kuningan. Mesjid yang banyak papan “haram”-nya ini bukanlah milik organisasi Ahmadiyah Manislor.
image
Halaman Alhuda

Advertisements