“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”.

(QS. Ar-Ra’du: 28)

Hai KITAers! Ada yang mengatakan bahwa meditasi akan membangun pikiran positif. Sudah banyak orang yang membahas kehebatan dari meditasi. Pertanyaanya: Apakah shalat meditasinya umat Islam? Tidak sepenuhnya benar, karena shalat adalah ibadah yang diperintahkan Allah. Namun jika dibandingkan dengan meditasi, shalat memiliki salah satu manfaat seperti manfaat meditasi yang memberikan ketenangan dan rasa damai kepada pelakunya. Shalat membuat Rasulullah Shallallaahu ‘Alayhi Wa Sallaa dan semua yang melakukannya akan mendapatkan kedamaian jika khusyu’.

Ketenangan dan kedamaian akan menjadikan kita memiliki pikiran yang jernih, sehingga pikiran kita akan selalu positif, kritis, dan kreatif. Bayangkan, kita melakukannya minimal 5 kali dalam sehari. Jika ditambah shalat sunah rawatib, dhuha, dan tahajud, maka bisa kita bayangkan bagaimana kekuatan manfaat (baru sebagian) dari shalat yang khusyu’.

Selain ketenangan dan kedamaian yang menjadikan kita berpikir jernih, shalat juga akan menjadikan diri kita optimis. Kenapa tidak? Allah akan menolong kita. Sebesar apa pun impian kita, semuanya kecil bagi Allah. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk menjadi pesimis jika kita yakin Allah akan menolong kita. Tidak ada lagi cemas, jika hanya berharap seutuhnya kepada Allah Ta’ala.

Kala kita berdo’a, akan menambah optimisme kepada kita, bahwa do’a kita memang akan dikabulkan oleh Allah. Jika do’a akan dikabulkan oleh Allah, maka secara otomatis kita akan optimis menyambut do’a kita.

Meski kita belum mengetahui solusi dari masalah yang sedang kita hadapi. Meski kita masih bingung bagaimana cara kita menggapai impian “terliar” kita, tapi kita yakin bahwa Allah akan menunjukan jalan keluar dan memberi solusi dari jalan yang tak terpikirkan dan tak pernah terduga oleh kita. Oleh karena itu, kita akan selalu berpikir positif. Kita yakin, bukan tidak ada solusi atau cara, kita hanya belum menemukannya.

Well. Jika kita belajar ilmu sukses, berpikir positif, atau optimisme adalah setengah dari keberhasilan kita. Meski belum tentu berhasil, jika kita yakin, peluangnya 50%. Jika  tidak yakin, jelas peluangnya akan jauh berkurang, bahkan ketidakyakinan kita sampai menjadikan langkah kita berhenti, maka peluang keberhasilannya menjadi 0%.

Jika sudah optimis, memiliki keyakinan 100%, artinya keberhasilan sudah digenggam setengahnya. Ikhtiar akan jauh lebih mudah karena tinggal menyelesaikan 50% sisanya. Bahkan, jika keyakinan ditambahkan dengan sikap-sikap positif lainnya, akan menjadikan peluang keberhasilan kita menjadi 85%. Sikap positif adalah 85% faktor keberhasilan, sisanya adalah masalah teknis.

Ini memang hanya permainan angka, meski angka ini diambil dari data empiris (pengalaman/riset). Namun bukan angka yang perlu kita perhatikan, tetapi berpikir positif akan menjadikan usaha kita semakin mudah. Pikiran positif akan membuka jalan menuju apa yang kita cita-citakan, untuk mendapai tujuan KITAers tetap diperlukan ikhtiar, tetapi lebih mudah karena jalannya sudah terbuka.

Jika KITAers mendirikan shalat dengan dawam dan khusyu’ maka pembentukan pikiran positif akan sangat cepat dan sangat kuat. Belum lagi, dengan pengulangan m i n i m a l 5 kali sehari, akan menjadikan pikiran positif tertanam dengan kuat ke dalam pikiran kita.

Tidak ada konsep pengembangan diri yang lebih hebat dari kombinasi khusyu’ dan pengulangan yang intens. Ini akan memberikan dampak yang luar biasa bagi pelakunya. Pengulangan saja tanpa kesadaran dan kehadiran tidak akan ada gunanya, karena apa yang kita ucapkan tidak akan pernah masuk ke dalam pikiran kita. Kesadaran dan kehadiran kita pun tidak akan memberikan bekas tanpa pengulangan yang intens.

Jika KITAers sepakat dengan penulis bahwa pikiran positif adalah pembuka jalan menuju cita-cita, maka motivasi bagaikan energi yang mendorong kita untuk bertindak. Semakin besar motivasi yang kita miliki, maka akan semakin hebat tindakan kita dalam merealisasikan cita-cita,  hingga tak hanya sekedar menjadi harapan belaka.

Seperti disebutkan pada bab sebelumnya, bahwa kita akan mendapatkan energi yang dahsyat jika kita shalat dengan dawam dan khusyu’. Artinya, akan membangun motivasi yang sangat besar dalam diri kita. Belum lagi, kondisi pikiran kita yang positif dan optimis akan meningkatkan motivasi juga. Sehingga sumber energi pendorong bagi orang yang shalat khusyu’ itu sangat besar.

Sungguh aneh memang, jika ada orang yang biasa shalat tetapi malah loyo, maka tidak ada lagi jawaban yang tepat, bahwa penyebabnya adalah orang tersebut tidak khusyu’ saat mendirikan shalat. Kalau dia merasa khusyu’, tetapi tetap loyo, artinya ini bisa menjadi bahan introspeksi.

Apa jadinya jika KITAers memiliki motivasi yang kuat? Maka motivasi itu akan mampu mendorong diri kita untuk bergerak, untuk menjemput rezeki sebesar mungkin, untuk berkhidmat, bertabligh, dan berjihad. Kita akan bergerak dan terus bergerak meski ada hambatan yang menginginkan langkah kita berhenti.

So, hal ini ibarat sebuah mobil yang memiliki cukup energi, maka mobil itu bisa melaju dengan kencang dan sampai ke tujuan. Apa jadinya jika mobil tidak memiliki bensin yang cukup? Boro-boro bisa melaju kencang dan membawa muatan yang banyak, mobil akan diam terpaku, tak bergerak saat bensinnya habis. Bensin ini adalah analogi motivasi bagi diri kita yang akan menjadikan diri kita bergerak.

KITAers, sukses memang bisa kita raih dengan tindakan, namun tak akan bisa jalan  jika tidak ada energi. Energi yang dimaksud tak hanya energi secara fisik saja, namun dengan shalat kita mendapatkan energi ruhiyah, yang merupakan buah dari energi ketundukan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Wa-LLAAHU a’lam bishshawwab. LV (30/12).

 

Advertisements