Manislor: Minggu (12/4). Diadakan sebuah perkumpulan untuk Lajnah Imaillah yaitu Ijtima Daerah Cirebon. Antusias LI di seluruh Wilayah III Cirebon pun sangat luar biasa, hal ini terlihat dari penuhnya tempat yang telah disediakan. Kegiatan ini dihadiri oleh 981 orang yang terdiri dari 701 LI, 234 NAI dan 46 Banat. Tema yang diusung adalah “Meningkatkan Keberhasilan dan Kesetiaan LI kepada Jemaat dan Khilafat”.

Ijtima daerah ini diawali dengan pembacaan amanat Sadr Lajnah Imaillah oleh Dra. Lilies Siti Asiah Kamil M.pd. Dalam awal penyampaiannya beliau berkata, “sekarang LI dan NAI harus mendapatkan amanatnya dari Khalifah. Karena kita orang Ahmadiyah harus mendengar suara langit Allah Subhaanahu wa Ta’ala, bukan amanat dari saya yang lemah ini.”

Sebelum beliau memaparkan amanatnya lebih jauh beliau mengulas terlebih dahulu apa tujuan diadakannya Ijtima. Tujuannya antara lain: 1) Melaksanakan nasehat; 2) Memberikan faedah sebesar-besarnya untuk kemajuan jasmani dan rohani; 3) Agar dapat menjadi umat yang terbaik.

“Seorang Lajnah harus seperti cahaya yang tidak bisa dibendung oleh apapun, seorang Lajnah tidak boleh merasa takut melainkan harus siap berani menegakkan kebenaran.” Ujar Sadr Lajnah Imaillah

Selain itu beliau juga menuturkan bahwa kemenangan semakin dekat. Di negara banyak sekali pertentangan namun di Negara lain banyak sekali yang ber-baiat. Layaknya sebuah kereta yang sedang melaju sangat kencangnya tidak mungkin bisa dihentikan begitu saja, hanya yang tak ada dalam kereta tersebut yang akan merasa merugi.

Walau acara sempat terganggu oleh guyuran hujan, namun suasana masih berlangsung khidmat. Penyampaiannya yang sangat interaktif serta peserta yang tampak begitu antusias untuk mendengarkan, bahkan pemberian hadiah pun menambah semangat Lajnah Imaillah untuk menjawab dan bertanya kepada Ibu Sadr Lajnah Imaillah Indonesia tersebut.

“Revolusi rohani akan sangat cepat sedangkan revolusi jasmani akan sangat lambat, dan jika hal itu terjadi insya Allah, Allah Ta’ala akan membantu perkembangnnya.” Tutur Ibu Sadr.

Penyampaian yang diiringi ilustrasi membuat acara semakin menarik. Beliau mengilustrasikan sebuah dosa yang senantiasa dibuat oleh setiap manusia dengan menggunakan air dan betadine, dimana air digambarkan sebagai keadaan manusia sejak awal dan betadine adalah dosa yang senantiasa dibuat oleh manusia, dan hasilnya bahwa air segelas itu bisa terkotori hanya dengan setetes betadine.

Dari ilustrasi tersebut, Ibu Sadr menjelaskan kesimpulannya, “bahwa sedikit perbuatan dosa yang kita lakukan akan kembali bersih bila kita berbuat kebaikan yang lebih banyak (secara terus menerus) daripada dosa yang telah kita buat. Hal ini menunjukkan bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati. Marilah kita sama-sama menghindari dosa.”

Walau matahari sudah mulai menampakkan keganasan dengan teriknya tetapi suasana semakin khidmat.

Kegiatan ini diakhiri oleh lomba-lomba rohani seperti MTQ dan kuis Siapa Berani.

Semoga Ijtima ini dapat memperbaiki kita semuanya dan membawa kepada perubahan diri yang lebih baik serta dapat mencapai revolusi rohani yang sangat luar biasa (menjadi Khayrul Ummah).

 

 

Advertisements