Manislor: Jumat, (16/08). Khudam Manislor berkumpul di Masjid An-Nur untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-68. Diperkirakan khudam yang menghadiri acara tersebut ± 40 orang. Acara dimulai dari tanggal 16-18 Agustus. Hari pertama, acara dibuka oleh Mubaligh Herdy di Masjid Al-Hikmah. Setelah itu, acara dilanjutkan di Masjid An-Nur sekitar pukul 19.00 WIB ba’da shalat Isya. Untuk lomba pertama (rohani) yaitu lomba debat. Setiap anggota yang mengikuti dibagi per kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang. Ada 8 kelompok yang mengikuti debat tersebut. Juri debat tersebut yaitu Mubaligh Herdi.

Debat pun berlangsung cukup sengit. Masing-masing kelompok diberi 2 pilihan antara pro atau kontra. Dan diberi waktu 2 menit bagi peserta yang mengikuti debat untuk mengemukakan pendapatnya.

Di antara tema yang diberikan oleh panitia debat, ada salah satu tema yang paling menarik perhatian. “Wajibkah kita shalat berjamaah di Masjid?” Debat berlangsung sangat menarik. Sehingga semua penonton yang menyaksikan debat terbawa suasana. Ada yang tertawa, bahkan ada peserta yang geregetan ingin mengemukakan pendapatnya dalam debat yang dipandu langsung oleh juri.

Di hari kedua (17/08), merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu. Setelah upacara kemerdekaan RI, semua orang berkumpul di Lapangan SMP Amal Bakti untuk mengikuti perlombaan jasmani (lomba balap makan kerupuk, tarik tambang, dan panjat pinang). Hingga acara yang dinanti-nanti oleh semua orang yaitu panjat pinang pun dimulai. Tim yang mengikuti lomba panjat pinang terdiri dari 6 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 10 orang pemanjat. Peraturannya setiap kelompok diberi waktu 5 menit untuk memanjat. Setelah waktu selesai, giliran kelompok selanjutnya untuk memanjat.

Setiap peserta panjat pinang memiliki strategi dan teknik khusus dalam hal perpanjat-pinangan. Mereka dengan susah payah membangun pondasi agar mudah mencapai puncak. Ternyata, memang sulit untuk memanjat pohon pinang yang licin. Butuh kerja sama yang kompak untuk mencapai puncak. Setelah beberapa kelompok mencoba dan terus mencoba, banyak yang jatuh juga. Perjuangan mereka yang tak pantang menyerah dengan badan yang sudah berlumuran oli, menimbulkan gelak tawa bagi orang yang menontonnya.

Lalu, acara panjat pinang pun semakin meriah dengan adanya tepuk tangan penonton. Hal itu membuat para peserta panjat pinang tambah bersemangat dan terus bersemangat. Kelompok yang paling gesit dalam memanjat, yaitu kelompok “Tarzan” yang diketuai oleh Kang Komeng. Mereka seolah-olah tak pernah lelah memanjat pohon pinang yang tingginya ± 14 m yang licin diberi oli. Setelah ± 3 jam berlalu, akhirnya “Tarzan” berhasil meraih semua hadiah tersebut, dan berhasil mengibarkan bendera merah putih dengan bangganya di puncak.

Tawa, canda, saat memanjat dari para penonton untuk para peserta pemanjat pohon pinang memberi arti kehangatan, kekeluargaan, bagi rakyat Indonesia; khususnya Manislor tercinta, KITA satu (untuk) Indonesia. Tepuk tangan haru dari penonton pun mengakhiri lomba panjat pinang tersebut dan diakhiri dengan senyuman.

Jiwa muda Khudam Ahmadi yang pantang menyerah, mencerminkan para pejuang yang jaman dulu. Dengan gigih berjuang meraih kemerdekaan untuk tanah air tercinta: Indonesia. Walaupun hadiah yang diberikan tidak “wah”, tetapi kekompakan yang terjalin antar Khudam Manislor begitu kuat. Dan juga kehangatan, kesatuan yang terjalin dari rekan-rekan Khudam mencerminkan kekeluargaan yang sangat erat.

Hut RI yang ke-68 menjadikan Indonesia semakin satu, semakin damai, asri, tentram dan sejahtera. Semoga kami Khudam mampu memberikan lebih banyak lagi Rasa – Karsa – Cipta – Karya untuk kemajuan negeri tercinta: INDONESIA. Dan, hanya inilah yang baru bisa kita (khudam) berikan dalam memeriahkan hari kemerdekaan. Sebab, merdeka itu harga mati, Bung! Kita untuk selamanya. Semoga.

Advertisements