Manislor: Jum’at sore, (02/08). Pembukaan pesantren kilat ramadhan NAI dan Athfal diadakan di Mesjid Al-Hikmah. Acara ini dihadiri oleh 108 orang NAI dan 50 orang Athfal. Kegiatan tersebut dibuka oleh pembawa acara (Ardiansyah Firdaus) yang dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh saudara Daus, lalu janji Athfal oleh ketua Athfal (Afrizal Y.P) dan janji Nashirat oleh Syifa R., serta sambutan dari Qaid Manislor. Hari pertama hanya dicukupkan dengan pembukaan acara, setelah itu rekan Athfal dan Nasirat kembali pulang.

Hari kedua, Pesantren Kilat dilaksanakan ba’da Ashar dan masih bertempat di Mesjid Al-Hikmah. Sebelum mengawali pembelajaran, peserta pesantren dibagi kelas oleh para pembimbing. Kelas A bertempat di lantai satu mesjid yang terdiri dari rekan Nashirat tingkat SD, mulai dari kelas 1 s/d kelas 3. Kelas B di lantai dua mesjid dengan peserta dari rekan Nashirat tingkat SD kelas 4 s/d kelas 6, dimana masing-masing kelas diisi oleh para pembimbing. Sedangkan kelas C di lantai atas rumah misi masjid Al-Hikmah yang dihadiri oleh rekan Nashirat tingkat SMP. Materi disampaikan oleh Mln. Khaeruddin Atmaja.

Dalam materinya, beliau memaparkan bahwa, “Seorang muslim adalah seseorang yang orang lain terselamatkan dari kejahatan lidahnya dan tangannya.”

“Tujuan dari pesantren kilat ini baik, hanya saja minat dari peserta sangat kurang. Mungkin, kurangnya dorongan dari semua pihak, terutama dari orang tua dan juga minat dari pesertanya sendiri. Seibarat kita menjaring ikan, anggaplah mereka ini ikan dan kita yang menjaringnya. Toh, tidak semuanya yang akan kita dapat. Ada yang keluar dari jaring itu atau mungkin tidak kena dalam jaring. Bina saja yang ada, tidak usah berkecil hati dengan banyak yang tidak hadir. Kemudian untuk kedepannya, hal ini jangan pas hari libur kalau memang acaranya hanya dari sore saja. Jadi, pas hari sekolah itu lebih baik karena kalau hari libur semuanya akan libur.” Ujar Mln. Khaerudin, ketika diwawancarai selepas kegiatan pembelajaran.

Beranjak pada hari terakhir dan bertempat di masjid Al-Barokah, peserta Pesantren Kilat melangsungkan kegiatan buka puasa bersama. Namun sebelum Adzan Maghrib berkumandang, acara diisi dengan nobar yang berlangsung sangat menyenangkan sehingga yang terdengar hanyalah canda tawa mereka. Setelah menyaksikan beberapa cuplikan yang diputar, mereka mengungkapkan makna yang tersirat dari masing-masing film tersebut. Banyak kesan dan pesan yang mereka simpan dalam hati, tetapi hanya sebagian yang mengungkapkannya.

“Semoga ilmu yang didapatkan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.” ujar Nazim Tarbiyat.

Selaku pembimbing NAI yang sedang menempuh pendidikan di luar Desa Manislor, Reni Zahra menuturkan sedikit perasaannya. “Perasaan saya sangat senang. Melepas kerinduan, karena selama berada di Purwokerto jarang ada kegiatan NAI. Berbeda dengan di Manislor, sehabis maghrib ada belajar, walau pun tidak seberapa ilmu yang dimiliki tetapi jauh lebih senang jika bisa diamalkan untuk ade-ade Nashirat.”

Ada pula pesan yang disampaikan Reni Zahra untuk rekan-rekan NAI, “buat ade-ade Nashirat yang cantik dan pintar, belajarlah sedini mungkin. Baik ilmu rohani maupun akademiknya, agar bisa seimbang dan berguna untuk dunia dan akhirat.”

“Perasaan saya tentunya senang, karena aktivitas Athfal dan NAI bisa disalurkan ke aktivitas yang positif, menuntut (sedikit) ilmu di pesantren kilat ini. Dan harapan saya, semoga Athfal dan NAI setelahnya mengikuti acara ini, bisa mengamalkan apa yang didapat selama mengikuti kegiatan. Menjadi Athfal dan NAI yang lebih ita’at pada pemimpin khususnya Jemaat.” Ujar Ryan Mubarik, ketika ditemui di kediamannya (05/08).

(laida, putri, nina, teteh)

Advertisements