“Sesungguhnya tidak ada Islam tanpa Jamaah, dan tidak ada Jamaah tanpa Imarah (Amir/Pimpinan), dan tidak ada Imarah tanpa taat”.

(Riwayat Ad-Darimy, dari Tamim Ad-Daary, Sunan Ad-Darimy, Juz I, hal. 79).

Sekitar 105 tahun terakhir hanya Ahmadiyah lah yang berhasil mewujudkan lembaga Khilafat dalam Islam. 27 Mei kemarin, sepenuhnya patut kita syukuri. Coba perhatikan dengan seksama belahan Bumi dari Barat sampai Timur, khususnya di Desa Manislor, tidak pernah ada yang berhasil mendirikan Khilafat tandingan. Berbagai upaya dari umat Islam sudah dilakukan untuk mendirikan lembaga tersebut, tetapi semua daya upaya mereka telah gagal.

Negara-negara yang berdiri di atas Syariat Islam pun tidak ada yang diberi karunia Kepemimpinan ini. Arab Saudi sekarang dipimpin oleh seorang “Raja”, Iran, Irak, dan Pakistan negeri Muslim yang sering dililit konflik dipimpin oleh seorang Presiden, walaupun muncul pimpinan kharismatik dari kalangan ini, mereka hanya menyebutnya “Pimpinan Spiritual”.

Demikian juga di negeri kita, negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia, GAJAH-GAJAH organisasi Islam di tanah air hanya dipimpin oleh “Pimpinan Besar (PBNU) atau Pimpinan Pusat (Muhammadiyah)”. Bahkan organisasi yang paling getol menuduh orang lain sesat hanya dipimpin oleh Ketua (MUI), Panglima (FPI). Bermunculan pula organisasi seumur jagung yang tidak jelas status kepemimpinannya.

Konon terdengar kabarnya organisasi semacam HTI punya angan-angan untuk mendirikan lembaga Khilafat Islamiyah, tetapi sampai saat ini cita-cita mereka tidak dikabulkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Faktanya bahwa tidak ada satu organisasi pun di dunia yang dipimpin oleh seorang Khalifah selain Ahmadiyah.

Salah satu faktor yang menarik dalam Khilafat di Ahmadiyah yaitu bahwa ia ditaati dan dicintai oleh warga dari berbagai benua mulai dari belantara Afrika sampai Amerika, dari daratan Eropa sampai Australia dan Asia. Demikian lah memang sudah menjadi takdir bahwa kemajuan Islam di akhir jaman akan diraih berkat kepemimpinan Khilafat, pembawa amanat dari Imam Mahdi ‘alayhissalaam sebagai penerus amanat yang diemban oleh Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Khilafat yang sudah berdiri selama 105 tahun bukan sebuah kebetulan. Begitu pun masuknya Ahmadiyah di Desa Manislor. Betapa banyak berkah yang terus mengalir pasca berdirinya Khilafat. Kita yang sekarang berada di dalam bahtera Khilafat adalah orang-orang terpilih untuk mendapatkan anugerah-Nya. Kemajuan-kemajuan pun sudah bisa kita rasakan di dunia ini juga. Manislor yang hanya sebuah desa kecil di bawah kaki Gunung Ciremai, yang dulunya tidak ada yang tau di mana keberadaannya. Kini menjadi sebuah desa kecil yang menjadi sorotan Nasional bahkan Internasional. Berduyun-duyun orang yang berkunjung dari berbagai tempat, hanya untuk mengetahui Desa Manislor.

Dulu, jika ada yang bertemu dengan perempuan berkerudung dengan baju panjang yang longgar, mereka langsung mengenalinya sebagai orang Manislor; budaya salam dan senyum menjadi ciri khas orang Manislor; dan masih banyak lagi ciri khas Ahmadi Manislor yang kian hari semakin memudar karena tergerus arus akhir jaman.

Entahlah apa yang telah terjadi, sangat disayangkan. Generasi sekarang banyak yang lalai dan terlena setelah diberikan berkah dan anugerah dari Khilafat ini. Bahkan 10 syarat Bai’at mungkin sudah mulai ditinggalkan, bahkan (mungkin) hanya hapalan yang terlupakan. Gemerlap dunia dan budaya urban menggeser nizam dan syari’at. Janji-janji badan yang selalu dibaca setiap kegiatan, hanya sekedar formalitas. Padahal janji-janji tersebut diawali dengan dua kalimat syahadat: Asyhadu a(n)laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullaah.

Saat mengikrarkan janji, kita bukan berjanji kepada para muballigh, bukan kepada Sadr, bahkan bukan berjanji kepada Khalifah. Lebih dari itu. Kita berjanji langsung kepada Penguasa alam semesta: Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Sudah sejauh mana kita menunaikan janji tersebut? Entahlah, sudah berapa kali janji itu diikrarkan dalam hidup. Perlu diingat bahwa janji adalah hutang. Hutang kepada manusia saja wajib dilunasi. Apalagi berhutang kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Pada dasarnya, menunaikan janji-janji dan melaksanakan dengan istiqamah 10 syarat bai’at salah satu cara kita untuk mempertahankan agar berkah dan anugerah tersebut tidak dipindahkan oleh Allah Ta’ala kepada ummat lain. Anugerah menjadi Ahmadi keturunan ataupun mubayyin, perlu juga dirawat dan dijaga. Kita bisa merasakan berkah Khilafat hari ini, tak lepas dari doa-doa para orangtua terdahulu dan perjuangan mereka hingga menjadikan Manislor seperti sekarang. Jika memang masih memikirkan nasib keturunan-keturunan kita di masa depan, harus kita perjuangkan anugerah-Nya tersebut seperti para pendahulu. Agar 10 tahun, 100 tahun, atau 1000 tahun lagi, keturunan-keturunan kita masih mengenal Manislor sebagai Rabwah Kedua., masih mengenal Imam Mahdi dan Masih Mau’ud, dan tentunya kita akan didoakan oleh keturunan-keturunan yang masih tetap berada di dalam bahtera Khilafat. Itu semua tergantung dari kerja keras kita hari ini untuk tetap taat pada nizam dan menegakkan kembali syari’at Islam.

Manislor, semanis namanya. Apakah pernyataan yang pernah dilontarkan oleh orang-orang yang pernah singgah ke Manislor, akan tetap jadi kenyataan atau hanya akan menjadi sebuah tulisan di masa depan? Jawabannya ada di dalam hati kita. Mau dibawa ke mana masa depan Manislor, ada di pundak kita masing-masing. Mari kita taat kepada nizam Ahmadiyah dan Syari’at Islam. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, dan Mulai dari sekarang.

Sedangkan di luar sana masih banyak yang sedang mencari anugerah dan hidayah-Nya. Lantas, apakah kita akan terus dilalaikan oleh duniawi dan hendak lari dari nikmat keimanan yang telah disuguhkan oleh Allah Yang Maha Pemurah? Fabiayyi aalaa-i Rabbikumaa tukadzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak kamu dustakan? (QS.Ar-Rahmaan). wa-Allaahu a’lam bishshawwab.

Advertisements