Untitled

Halo, warga Manislor! Bagaimana kalau kita mulai tulisan jelek ini dengan teriakan ala tujuh belasan: “MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!”. Nah, sudah kan? sekarang tanyakan dalam hati “apanya yang merdeka?” Setelah ditelusuri dan dipikirkan dengan seksama, memang pertanyaan tersebut masih pantas untuk dipertanyakan (kembali). Mungkin pertanyaan tersebut masih terlalu lebar dan kurang jelas. Sekarang mari kita persempit konteks pertanyaannya, “Apa yang merdeka dari ibadah puasa Ramadhan kita?”

Pertanyaan ini jelas membutuhkan proses pemikiran yang panjang dan bahkan penelitian yang mantap untuk menjawabnya. Kebingungan ini disebabkan oleh status “merdeka” yang merupakan hasil dari sebuah perjuang melepaskan diri dari suatu kungkungan. Hal yang membuat kita semakin sulit menjawab adalah kondisi dari kungkungan yang tak pernah memiliki bentuk yang pasti. Kungkungan adalah sebuah tekanan (faktor-faktor pembentuk) yang terdiri dari berbagai macam aspek (sosial, politik, ekonomi, bla bla bla). Mungkin, itu yang membuat kita makin bingung harus mulai dari mana untuk memerdekakan diri kita sendiri?

Biasanya, sebab akibatnya begini: Puasa mengakibatkan kemerdekaan. Proklamasi konon terlaksana dalam nuansa puasa. Puasa, meletupkan energi lebih untuk meraih kemerdekaan. Baik badan maupun jiwa. Sekarang, gimana kalau dibalik? Merdeka dulu baru puasa.

Kita perlu merdeka sebelum berpuasa. Niat, misalnya. Ada yang berpuasa sekedar ikut-ikutan. Ada yang berpuasa karena diperintah. Kita mesti merdeka dari niat seperti ini. Ada juga sebaliknya. Lingkungannya justru mendorong agar dia tidak berpuasa. “Kamu puasa? Cupu!” Maka, agar diterima pergaulan, dia tidak jadi berpuasa.

Padahal telah kita ketahui bahwa bulan Ramadhan (kemarin) adalah waktunya menanam kebaikan; berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan (QS Al Baqarah: 148). Maka, Ramadhan kemarin dan 11 bulan ke depan, sangat tepat untuk menghapus lumpur-lumpur kemaksiatan politik maupun sosial yang sudah diperbuat. Melepas topeng kepura-puraan selama ini sebagai pencitraan di hadapan manusia. Itulah salah satu poin penting yang harus direnungkan bersama.

Sudah bukan menjadi peristiwa baru, apabila setiap menjelang bulan suci Ramadhan, para pemilik tempat-tempat hiburan di seantero Nusantara dibuat was-was dan ketakutan. Bukan oleh adanya peraturan daerah yang melarang dibukanya tempat hiburan tersebut atau pembatasan jam operasionalnya. Namun, tidak lebih pada maraknya tindakan penertiban tempat hiburan oleh sebuah organisasi masyarakat berbasis keagamaan, seperti Forum Pembela Islam (FPI) atau lembaga islam lainnya. Puasa, bukan sekedar kewajiban tahunan, dengan menahan lapar dan berbuka, kemudian setelah itu hampir tidak berbekas dalam jiwa ataupun perilaku dalam bersosialisasi di masyarakat. Akan tetapi, puasa lebih kepada kewajiban yang mampu menggugah moral, akhlak, dan kepedulian kepada hal sosial kemasyarakatan. Puasa merupakan kewajiban yang universal. Sebagai orang yang beragama Islam, maka perlu diyakini bahwa puasa merupakan kewajiban yang disyariatkan untuk setiap muslim/mukmin, seperti layaknya sebagai umat dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Dan, tahun ini sungguh spesial. Pada bulan yang sama kita merayakan 2 hari kemenangan. Idul Fitri dan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Semoga saja, setelah melewati Ramadhan dan mendapatkan 2 hari kemenangan pada bulan yang sama, cukup menjadi bekal untuk memerdekakan kita dari diri sendiri. Usir penjajah yang selama ini menghambat kesuksesan kita. Merdekakan diri dari rasa malas dan nafsu duniawi, agar hidup kembali pada fitrahnya. Merdekalah Bangsaku, Berdekalah Jiwaku! Mubarak!

Advertisements