Hey KITAers! Jika ada yang bertanya, “Siapakah wanita paling kuat di dunia?” Kita jawab dengan mantap, “Khadijah binti Khuwailid bin Abdullah Uzza bin Asad Al-Qursyiyah Al-Asadiyah.”

Jelas bukan Kartini, Xena, Laila Ali, atau wanita kekar perkasa lainnya. Sebab, kekuatan perempuan bukan terletak pada otot kawat tulang besi atau jago sparing partner. Lagi pula, banyak orang yang hebat dan kuat, justru binasa karena tidak bijaksana dalam menata kelebihan tersebut.

Bagiku, kekuatan wanita terletak pada keteguhan hatinya. Dari sana lah, sumber energi dahsyat yang mampu menggerakan apa yang tak sanggup digoyahkan otot. Menjungkalkan apa yang tak bisa disingkirkan tenaga raksasa. Kekuatan ajaib itulah yang menjelma sempurna pada sosok nan shalehah: K H A D I J A H.

Kekuatan hati bukan saja membentuk kepribadian tangguh pada diri Khadijah, lebih dari itu. ia berhasil melejitkan seorang lelaki hebat: Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Betapa luar biasa peran Khadijah! Dialah nafas cinta dan denyut nadi perjuangan suami. Wajar saja, jika Khadijah begitu istimewa di hati sang lelaki pilihan Tuhan. Hingga Aisyah nan jelita pun acapkali dibuatnya cemburu, meski raga Khadijah telah tiada. Karena Rasulullaah sering kali terkenang sweet memories bersama kekasih hatinya.

Wanita yang luar biasa bukan karena rezeki nomplok jabatan ratu dari kematian ayahnya, bukan pewaris kekayaan dari nenek moyangnya, bukan pula penumpang pada ketenaran nama suaminya. Melainkan yang paling besar manfaatnya atau sumbangannya bagi perubahan dunia ke arah yang lebih baik. Khadijah, sungguh memenuhi kriteria tersebut.

Sebagai istri yang baik, dia sukses mengantarkan Sayyidina Muhammad Shallallaahu ‘alayhi wa sallam ke puncak kemenangan Islam. Khadijah sangat layak dinobatkan sebagai istri terbaik. Cintanya sempurna dari pertama bertemu Rasulullaah hingga saat terakhir. Semua keistimewaan itu adalah murni dari kualitas pribadinya. Bukan faktor menumpang dengan yang lain.

Khadijah. Wanita pilihan yang dimuliakan Tuhan. Dia benar-benar wanita berjuta pesona. Daya tarik demikian kuat, oleh karena dirinya memancarkan keindahan pribadi.

Sob, tidak ada yang namanya teori k-e-b-e-t-u-l-a-n. Begitu juga Allah tidak akan pernah memutuskan segala sesuatu berdasarkan teori kebetulan. Bukan suatu kebetulan janda itu mendampingi seorang rasul pilihan. Mana mungkin untuk sang pengemban amanah mulia disediakan pendamping hidup yang diperoleh karena kecelakaan sejarah.

Khadijah hadir pada saat yang tepat dan memberikan segalanya tanpa batas, atas nama keikhlasan cinta. Ketangguhan Khadijah menjelma berupa kesiapannya membentangkan sayap kasih. Ketulusannya menyalakan lentera cinta di hati Muhammad Shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Bila Islam diibaratkan suatu bangunan, maka keringat Khadijah turut serta menjadi adonan pondasinya. Tanpa mengurangi arti kemuliaan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alayhi wa sallam, peran Khadijah sangatlah besar. Andai bukan perempuan seperti Khadijah yang mendampinginya, barangkali kisahnya akan berbeda. Wallaahu a’lam.

Jaman beralih, musim berganti, janganlah bercermin di air. Bila bercermin di air, seolah-olah kita sudah bergerak, temans! Padahal permukaan airnya yang beriak, sedangkan kita belum melakukan apa-apa. Karenanya bercerminlah pada sejarah yang pernah ditulis oleh Khadijah. Agar diri ini dapat mematut dengan bijaksana. (Vulki)

Advertisements