(Lanjutan Bahtera Nuh #3)

Pada tempat ini baiklah diingat bahwa walaupun tiada dosanya berobat untuk melawan penyakit tha’un (pes) dan penyakit lainnya, bahkan tercantum dalam sebuah hadits bahwa tiada sesuatu penyakit pun yang bagi penyakit itu Tuhan tidak menciptakan obatnya. Akan tetapi, aku menganggap diriku berdosa jika aku meragukan Tanda Tuhan melalui suntikan yang Dia ingin tampakkan kepada kita dengan sejelas-jelasnya di atas muka bumi ini. Aku tidak ingin mencemari kehormatan tanda-Nya yang benar dan janji-Nya yang benar dengan menganbil faedah dari suntikan. Jika aku berbuat demikian, niscaya aku patut dituntut karena dosa itu, sebab aku tidak mempercayai janji Tuhan yang telah diberikan kepadaku. Dan seandainya demikian, maka semestinya aku berterima-kasih kepada sang dokter yang telah menemukan serum suntikan ini dan bukanlah bersyukur kepada Tuhan yang telah berjanji kepadaku bahwa tiap orang yang tinggal di dalam dinding rumahku akan diselamatkan oleh Dia.

Aku berkata berdasarkan penglihatan rohani bahwa janji-janji Tuhan Yang Mahakuasa itu benar dan aku menyaksikan saat-saat yang akan datang demikian jelasnya sehingga

seakan telah tiba layaknya. Aku pun mengetahui bahwa tujuan pemerintah yang sebenarnya ialah, menyelamatkan orang-orang dari wabah tha’un dengan jalan apa pun

dan apabila di masa yang akan datang pemerintah menemukan suatu sarana yang lebih mujarab dari pada suntikan untuk menyelamatkan rakyat dari bahaya tha’un, maka pemerintah dengan senang hati akan menerimanya. Dalam keadaan ini jelaslah bahwa cara yang telah direstui Tuhan untuk ditempuh olehku tidaklah bertentangan dengan

tujuan pemerintah. Dan dua puluh tahun yang lalu tercantum di dalam kitabku Barahin Ahmadiyah berupa nubuatan mengenai wabah tha’un yang maha dahsyat itu dan juga tercantum mengenai janji limpahan berkat istimewa bagi Jemaat ini. Lihatlah Barahin Ahmadiyah halaman 518 dan 519. Kemudian, kecuali itu ada nubuatan yang tegas dari Tuhan, bahwa orang-orang mukhlis yang tinggal di dalam batas-batas rumahku dan yang tidak bertakabur di hadapan Allah dan Utusan-Nya, akan diselamatkan dari malapetaka tha’un dan secara relatif maupun secara komparatif karunia Tuhan yang istimewa akan tetap menyertai Jemaat ini, walaupun ada kalanya oleh karena kelemahan iman atau oleh karena cela dalam amal atau oleh karena ajal yang telah jadi suratan takdir atau oleh karena sesuatu sebab lain yang diketahui Allah, peristiwa semacam itu terjadi di dalam Jemaat ini. Maka peristiwa yang langka itu boleh dikatakan tidak ada. Biasanya pada waktu mengadakan perbandingan yang orang perhatikan ialah jumlah angka.

Sebagaimana telah dibuktikan sendiri oleh pemerintah dalam pengalaman, jumlah kematian di antara orang-orang yang telah mendapat suntikan anti tha’un dibandingkan dengan jumlah kematian di antara orang-orang yang tidak mendapat suntikan adalah sangat sedikit.

Jadi, seperti halnya peristiwa kematian yang jarang terjadi tidak dapat mengurangi pentingnya arti suntikan, demikian pula mengenai Tanda ini jika di Qadian peristiwa tha’un terjadi – yang secara komparatif sangat kurang atau kadangkala ada juga seorang-orang di dalam Jemaat ini meninggal dunia akibat penyakit itu – maka nilai Tanda itu pasti tidak akan berkurang.

Nubuatan ini ditulis sesuai dengan kata-kata yang diucapkan oleh Kalam Suci Tuhan. Adalah tidak layak bagi seorang bijak kalau ia dari semula memperolok-olokan Kalam Samawi. Ini adalah Kalam Ilahi dan bukanlah ucapan seorang ahli nujum. Ini adalah cahaya yang ditangkap indera penglihatan yang nyata dan bukanlah patgulipat permainan kegelapan. Ini adalah Kalam Ilahi yang telah membangkitkan wabah tha’un dan Dia-lah yang dapat melenyapkannya. (Bersambung…)

Advertisements