15 tahun lalu penulis masih ingat, ocehan Ibu Uminah, Ibu Bety, atau Pak Ucin yang menggema di gedung Fadhal Umar. Biarpun saat itu hanya disekat oleh triplek bolong (dan sudah tidak layak sebenarnya), namun keceriaan dalam belajar tetap terpancar. Tak terhalang oleh fasilitas yang memang sangat tidak memadai. Baiklah, itu dulu. Lantas, bagaimana kabar madrasah saat ini?

Sejenak terlintas rasa penasaran saat pulang ke Manislor, sehingga mengiringi langkah untuk mengunjungi kembali gedung yang amat bersejarah itu. Ternyata, keadaannya “lebih baik” memang. Dulu sekat triplek, kini sudah diganti oleh dinding yang kokoh. Setidaknya itu saja perubahannya (yang tampak). Selebihnya, secara fasilitas sudah tidak layak untuk murid yang tak kurang dari 100 siswa (padahal secara data 250 siswa) dari kelas 1 – 6 SD, dengan penyempitan ruang kelas yang hanya ada 4 ruangan untuk kelas 1 – 4 SD. Sedangkan kelas 5 – 6 SD bertempat di Masjid An-Nur.

Menurut penulis, sejatinya 15 tahun merupakan kurun waktu yang cukup untuk merubah fasilitas yang sudah tidak layak. Mulai dari papan tulis yang rusak, meja – kursi yang sudah reot (sampai harus meminjam dari Sekolah Dasar sekitar). Dan yang paling miris, hanya beberapa siswa saja yang membayar iuran yang dipungut Rp 3.000,- /bulan.

Meski demikian, sangat bersyukur madrasah masih tetap ada hingga saat ini, dengan segala masalah yang seharusnya (sudah) tidak masalah lagi. Harusnya. Tolong renungkan, madrasah  merupakan cikal bakal dan tulang punggung yang menetaskan bibit (unggul) untuk regenerasi Ahmadi Manislor di masa depan, agar menjadi manusia terdidik secara akhlak, serta tempat pemupukan manusia agar berpijak pada dasar Agama untuk menjalani hidup. Kini, kondisi madrasah malah tidak pantas disebut lembaga pendidikan. Kemudian, kita pun sebagai para orangtua murid sudah (mulai) kurang peduli dengan keadaan ini dan seolah menutup mata. Dimana kepedulian itu sekarang? Padahal di sisi lain, kita mampu menyekolahkan anak-anak dalam pendidikan dunia dengan biaya sebesar apapun. Segala upaya pun dilakukan demi terwujudnya cita-cita anak-anak di dunia, yang tujuan akhirnya adalah menyejahterakan secara ekonomi, harkat, dan martabat. Kepentingan dunia menyita banyak perhatian (sebagian) orangtua, sehingga tak sedikit yang hanya ala-kadarnya mengajarkan dasar Agama.

Seharusnya, orangtua harus memberi perhatian lebih untuk dasar agama bagi anak-anaknya yang menjadi alas berpijak di dunia. Sampai kapan kebutuhan perut terus yang terpikirkan?

Penulis tak berharap lebih atau sekedar meminta donatur saja. Yang terpenting, kita semua mau memikirkan masa depan anak-anak, hingga membentuk masyakarat yang terdidik dengan dasar agama yang baik dan kuat. Toh, kelak merekalah yang akan menggantikan siklus kehidupan di Manislor. Baik menggantikan di kepengurusan, maupun menggantikan kita sebagai orangtua. Lalu, apa jadinya jika orangtua tak bisa mendidik dasar ke-Islam-an dan ke-Ahmadiyah-an melalui sikap prilaku sehari-hari? Sebelum semuanya terlambat, mulailah untuk perduli. Buka mata, buka hati. Pasti selalu ada harapan dan kesempatan untuk ‘memadrasahkan anak-anak’ dan ‘melayakkan madrasah’ agar tidak semakin pasrah. (Red.)

 

 

Advertisements