Ketika hunting buku di perpustakaan Masjid Di Cabang lain, ada satu buku tipis yang menarik untuk dibaca.

Khutbah Nikah: TAKUTLAH KEPADA ALLAH!

Di bagian belakang buku itu ada ringkasan khutbah Nikah yang disampaikan oleh Huzur Di Singapore (20/07/1989). Sengaja diketik secuplik isi buku tersebut. Semoga bermanfaat.

Dalam masyarakat Islam, pernikahan adalah perikatan antara pria dan wanita. Pelaksanaannya tidak memerlukan sesuatu lembaga hukum, tetapi yang diperlukan untuk melaksanakan perkawinan itu adalah persetujuan si wanita dan walinya. Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam lazim membaca ayat-ayat tadi pada saat membacakan khutbah nikah pada peristiwa pernikahan yang khidmat guna mengingatkan kedua belah pihak mempelai kepada kewajiban mereka masing-masing satu sama lain.

Dalam khutbah nikah yang sesingkat itu, tidak kurang dari TIGA KALI diperingatkan kepada kita, terutama kepada kedua mempelai agar: TAKUTLAH KEPADA ALLAH!

Mengapa sampai demikian? Bukankah saat pernikahan justru saat yang sangat menggembirakan, saat bersuka cita dan saat bersenang-senang?

Banyak variasi dan cara para pengikut agama lain merayakan pernikahan itu, ada yang berpesta pora, hura-hura, bermabuk-mabukan, menyajikan tetabuhan dan tontonan. Pendek kata, segala macam kegembiraan dan kesenangan dunia dari yang paling sederhana dan biasa, sampai kepada yang paling mewah dan canggih, sering kita saksikan dalam perayaan suatu pernikahan.

Tetapi sebaliknya, apa yang diperingatkan oleh khutbah nikah yang biasa dibacakan oleh junjungan kita nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam? Tidak kurang dari TIGA KALI menyerukan agar kita TAKUT KEPADA ALLAH.

Apakah ini berarti bahwa Islam tidak memperkenankan pengikutnya untuk bersikap gembira dan suka-cita sewaktu peristiwa pernikahan salah satu pasangan pengikutnya? Mengapa harus ada peringatan itu?

Sebenarnya kalau kita sungguh-sungguh memperhatikan secara seksama, keadaan batin dan perasaan yang paling dalam dari kedua mempelai itu, harus diakui bahwa mereka dalam hati kecilnya berkecamuk berbagai pertanyaan yang menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran serta ketidak-pastian.

Pengantin wanita mempertanyakan masa depannya apabila telah menjadi anggota keluarga suaminya, bagaimana sikap ibu mertuanya? Bagaimana perlakuan saudara-saudara suaminya terhadap dirinya? Bagaimana hubungan dirinya dengan ibu-bapaknya yang selama ini senantiasa melindunginya? Dia akan melihat masa depannya dengan serba khawatir dan ketakutan. Bagaimana pula sikap suaminya? Apakah akan tetap mencintainya? Apakah tidak akan mengkhianatinya? Pendek kata, berbagai pikiran memenuhi benaknya, yang diliputi perasaan serba takut, cemas, dan khawatir.

Adapun akan halnya si pengantin pria, dia pun dalam hati kecilnya penuh diliputi serba ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran. Meskipun mungkin alasannya berbeda. Namun dia pun sebenarnya diliputi pula ketakutan. Bagaimana dengan masa depannya setelah dia berumah tangga, padahal kehidupan semakin sulit. Mampukah dia memikul beban dan tanggung jawab untuk memberi hidup kepada keluarganya? Bagaimana dengan kebebasan masa bujangnya yang harus dia tinggalkan? Bagaimana dengan teman-temannya yang baru dalam lingkungan yang baru? Apakah istrinya akan setia kepadanya? Pendeknya, berbagai pertanyaan bermunculan dalam hatinya yang menimbulkan ketakutan dan kecemasan serta kekhawatiran.

Dalam keadaan penuh kebingungan serupa ini, tiba-tiba terdengar nasehat: “Takutlah kepada Allah!” Apakah artinya itu? Mengapa kita harus TAKUT KEPADA ALLAH?

Kalau seseorang itu takut kepada Allah, maka dia tidak akan melakukan perbuatan yang dilarangoleh Allah, meskipun tidak seorang pun yang menyaksikannya, karena dia yakin bahwa Allah menyaksikan perbuatannya. Kalau sang istri yakin bahwa suaminya adalah seorang yang takut kepada Allah, maka bagi dia tidak ada rasa khawatir sedikit pun bahwa suaminya akan menyeleweng meskipun tanpa sang istri mengawasinya, karena si suami percaya bahwa semua perbuatannya diketahui oleh Allah.

Demikian pula apabila sang suami yakin bahwa istrinya takut kepada Allah, maka bagi dia tidak ada rasa khawatir sedikit pun bahwa istrinya akan mengkhianatinya, karena dia tau bahwa istrinya tidak akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan perintah atau larangan Allah, meskipun suaminya tidak mengawasinya, karena si istri percaya bahwa setiap perbuatannya diketahui oleh Allah.

Jadi dengan memiliki rasa takut kepada Allah, maka kehidupan suami-istri menjadi aman-tentram, saling mempercayai.

Seorang yang takut kepada Allah, dia tidak akan merasa takut kepada selain Allah, berarti dia juga tidak takut kepada makhluk-makhluk Allah atau ciptaan-ciptaan-Nya. Si pengantin wanita tang semula takut, khawatir atau cemas akan perlakuan yang akan diterima dari keluarga suaminya, atau dari lingkungan/handai taulan suaminya, apabila dia benar-benar takut kepada Allah dan semata-mata hanya takut kepada-Nya, maka semua ketakutan kepada yang lain selain daripada Allahakan hilang sirna. Dia akan berserah diri kepada Allah dan karena dia hanya takut kepada Allah, maka hatinya menjadi tenang dan tentram serta tabah menghadapi makhluk-makhluk lain ciptaan-Nya, termasuk keluarga dan handai taulan suaminya itu.

Kesulitan-kesulitan hidup juga termasuk ciptaan Allah, maka apa seseorang hanya takut kepada Allah semata-mata, dia tidak pula akan takut menghadapi kesulitan hidup atau tantangan hidup yang akan dihadapinya. Si suami yang semula merasa takut dan khawatir serta cemas tentang masa depannya, tentang bagaimana dia harus menghidupi istrinya, kalau dia benar-benar hanya merasa takut kepada Allah, maka dia akan berserah diri kepada Allah, dan hatinya akan menjadi tenang dan tentram menghadapi masa depannya yang serba tidak pasti itu. Karena apabila dia hanya takut kepada Allah, apa perlunya dia takut kepada kesulitan-kesulitan dan tantangan hidup yang hanya ciptaan Allah semata.

Pendek kata, apabila seseorang telah benar-benar takut kepada Allah, maka dia tidak akan takut menghadapi siapapun yang menjadi ciptaan Allah. Dengan takut kepada Allah, hati seseorang yang sedang gelisah, resah, cemas, khawatir, dan takut/gentar, akan segera menjadi tegar dan tabah serta penuh keyakinan dan percaya kepada pertolongan dan perlindungan Allah Ta’ala.

Itulah maknanya bahwa dalam khutbah nikah yang sesingkat itu, tidak kurang dari tiga kali diperingatkan agar kita takut kepada Allah. Baru apabila hati menjadi tenang dan tentram, baru apabila rasa takut, gelisah dan khawatir telah sirna; makna dari suatu perayaan atau peringatan itu mempunyai arti bagi yang bersangkutan. Maka itu, sebagai landasan dari perayaan suatu pernikahan itu, yaitu memberikan rasa ketentraman dan ketenangan kepada kedua mempelai yang bersangkutan, agar mereka dapat lebih menghayati dan merasakaan kebahagiaannya dan kegembiraannya hari pernikahan mereka itu, tidak lain dan tidak bukan adalah terlebih dahulu menghilangkan ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran dari hati sanubarinya, melalui khutbah nikah yang penuh berkat yang dicontoh-teladani oleh junjungan kita Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Karena apalah artinya segala perayaan pernikahan yang meriah, pesta pora yang hiruk pikuk, apabila hati mempelai berdua penuh diliputi ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran? Sebaliknya, meskipun perayaannya itu sendiri sangat sederhana, tetapi hati kedua mempelai penuh diliputi kegembiraan, ketentraman, dan kebahagiaan, maka itu sudah berarti semua bagi mereka. karena DASAR KESENANGAN YANG HAKIKI TERLETAK DALAM HATI MANUSIA dan Islam sangat memperhatikan hal ini. Sekian. (BK/LV)

 

Advertisements