Ahmadiyah Manislor : Sabtu (31/01/2015), pada acara muawannah gabungan LI Manislor ada yang sedikit berbeda dari muawannah gabungan biasanya.

Risthanata: Kejar Sang Jodoh Meski Ke Ujung Dunia. Khudam-LI Harga Mati!

Muawannah gabungan kali ini, dihadiri oleh anggota Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Sekretaris Risthanata) dan Pengurus Pusat Lajnah Imaillah. Acara yang dihadiri oleh 250 LI Manislor berlangsung khidmat, dengan penceramahnya yaitu Mln. Ismail Firdaus dan Tn. Tatang Hidayatullah (Risthanata Corner PB). Dalam ceramahnya, Mln. Ismail Firdaus menyampaikan banyak hal yg bisa kita pelajari kembali mengenai risthanata.

Menjalankan islam, terdapat 2 jalur yang sangat penting, yaitu tabligh dan tarbiyat. Tabligh berarti menyampaikan kebenaran ahmadi kepada orang-orang yang belum bai’at, bertujuan untuk menambah anggota jemaat, seperti jemaat ahmadiyah sekarang sudah tersebar di 204 negara itu hasil dari adanya tabligh. Sedangkan tarbiyat berarti mendidik, memberikan pengetahuan kejemaatan dan keislaman. Salah satu tarbiyat yang sangat penting dalam jemaat yaitu mengenai risthanata. Hudzur pun selalu menghimbau agar pengetahuan mengenai risthanata selalu melekat pada jiwa putra-putri ahmadi. Mungkin di telinga kita sudah tidak asing lagi mengenai risthanata, meskipun demikian, prakteknya harus lebih kita tingkatkan kembali.

Pengetahuan risthanata tentunya tidak dapat serta merta tumbuh dengan sendirinya, maka dari itu, diperlukan tarbiyat keluarga. Dalam tarbiyat keluarga, sosok orang tua terutama ibu, dalam menekankan pengetahuan risthanata sangatlah penting, terlebih karena ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak-anaknya.

“Seorang anak akan menjadi Islam, Nasrani, Yahudi, atau Majushi itu tergantung orang tua dalam men-tarbiyat-i anaknya”. Ujar Mln. Ismail Firdaus.

Sudah menjadi kewajiban orang tua ahmadi untuk mengarahkan anak-anaknya agar memilih pasangan atau menikah dengan sesama ahmadi pula. Seperti yang telah kita ingat, bahwa pernikahan di dalam jemaat itu bukan hanya sekedar menikahkan kedua pasangan tersebut, tetapi juga merupakan pernikahan antar kedua keluarga (besar).

Mengapa harus menikah dengan sesama ahmadi? Satu dari sekian jawaban di antaranya karena salah satu cara orang-orang yang membenci terhadap jemaat, untuk menghancurkan jemaat bukan saja melalui fitnah, perang, penyegelan masjid-masjid atau pelarangan mengadakan kegiatan-kegiatan rohani saja, melainkan juga dengan cara menikahi putra-putri ahmadi yang akan mengakibatkan kita jauh terhadap jemaat. Hal itu tentunya sangat tidak kita inginkan, maka dari itu, tugas kita bersama untuk saling mengingatkan bahwa ‘LI untuk Khudam’ dan ‘Khudam untuk LI’ adalah harga mati. Kita harus saling mengingatkan, bahwa kita berada dalam satu payung besar, satu garis yang sama, nizam Khilafat Ahmadiyah.

Begitulah kira-kira ceramah yang disampaikan oleh Mln. Ismail Firdaus, teguhlah untuk terus berjuang dan tidak putus asa berdoa dalam mencari pasangan sesama ahmadi. Ahmadiyah itu luas tersebar di 204 negara, cari kemanapun sampai dapat, jika harus keluar lingkungan Manisor, kejar! Bila perlu keluar lingkungan Indonesia, juga kejar! Kesampingkan seberapa banyak kekayaannya, seperti apa tampan atau cantiknya, siapa keturunannya, tapi pandanglah bahwa kita sama-sama murid Imam Mahdi ‘alayhissalaam. Sekian. (BK/Anggie)

 

Advertisements