Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat bila kamu tidak berada dalam keadaan sadar sepenuhnya.

Mengapa Tayammum Menggunakan Debu

Sampai kamu mengetahui apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula ketika kamu dalam keadaan junub hingga kamu telah mandi kecuali kalau kamu sedang bepergian.

Dan, jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau seseorang di antaramu datang setelah buang air atau kamu campur dengan istri-istrimu dan kamu tidak mendapat air, maka hendaklah kamu tayammum dengan tanah suci, kemudian sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun (Q.S. Annisa:44)

Dari keempat golongan, yaitu orang sakit; orang dalam perjalanan; orang yang datang dari tempat buang air; dan orang yang telah bercampur dengan istrinya; hanya golongan terakhir bila dalam keadaan junub memerlukan wudhu atau membersihkan diri menurut keadaan; dan bila mereka tidak mendapatkan air, mereka dapat melakukan tayammum.

Mengapa Tayammum Menggunakan Debu?

 

Untuk kedua golongan yang tersebut pertama tidak diperlukan syarat memperoleh air. Mereka dapat bertayammum sekali pun bila mereka menemukan air. Itulah sebabnya kata-kata “kamu dalam keadaan junub” telah dibubuhkan sesudah jika kamu sakit atau dalam perjalanan.

Di sini hendaknya diperhatikan bahwa pernyataan “dalam perjalanan” itu sama dengan ungkapan “sedang bepergian”, kedua-duanya mengandung mafhum dalam keadaan benar-benar bepergian bila orang seakan-akan sedang sibuk-sibuknya. Debu dipilih sebagai pengganti air, sebab sebagaimana air mengingatkan orang kepada asal kejadiannya (77:21), dan dengan demikian menimbulkan di dalam dirinya suatu rasa tawadhu (kerendahan hati); begitu pula debu mengingatkannya kepada zat rendah lainnya yang dari zat itu ia diciptakan (30:21).

Referensi: Al-Qur’an dengan terjemahan dan tafsir singkat jilid 1 edisi 5. 2007. Jakarta: Yayasan Wisma Damai. Dialihbahasakan oleh Dewan Naskah Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

Advertisements